Ziarah kader NU bengkayang ke makam maharaja imam sambas

Senin, 25 Januari 2021, Haji Damsir, seorang kader NU Bengkayang melakukan ziarah ke makam salah satu ulama besar Kalimantan Barat, Haji Muhammad Basiuni Imran Sambas (1885-1976). Seorang ulama yang bergelar Maharaja Imam di Kerajaan Sambas. Makam beliau terletak dikampung dagang timur, Sambas,  Kalimantan Barat. Haji Muhammad Basiuni Imran adalah salah satu pelopor modernisasi pendidikan madrasah. Tercatat, Madrasah Assulthoniyyah yang diprakarsai oleh Sultan Muhammad Syafiuddin II Sambas, berhasil beliau kembangkan berkat pemikiran dan pengalaman menimba ilmu ditanah suci dan di Mesir.

Literatur sejarah memberitakan, Haji Muhammad Basiuni Imran pernah mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat luar biasa, inti utama dari pertanyaan yang diajukan beliau pada tahun 1929 tersebut adalah “kenapa umat Islam tertinggal dan kenapa umat lain maju ?” (Limadza Ta’akkhara al Muslimun wa Limadza Taqaddama Ghairuhum?). Pertanyaan Ini muncul sebagai bentuk keprihatinan nyata beliau terhadap kondisi umat kala itu. Maharaja Imam faham betul tentang itu, terlebih beliau adalah seorang ulama besar yang sering turun masuk kampung berjuang mendakwahkan Islam.

Pertanyaan fundamental Maharaja Imam Kerajaan Sambas ini diajukan kepada gurunya, Syaikh Rasyid Ridho, seorang tokoh pembaharu Islam Mesir. Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh Amir Syakib Arsalan, pertanyaan yg kemudian menjadi risalah penting dan dicetak menjadi sebuah buku. Buku ini berdampak luar biasa bagi dunia Islam pada waktu itu dan menjadi renungan bagi generasi muda Islam masa kini. Buku ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Bulan Bintang pada tahun 1954 dengan judul “Mengapa Kaum Muslimin Mundur”.

“Tujuan ziarah saya hari ini, yang pertama dan utama adalah dalam rangka napak tilas mengenang perjuangan dan dakwah ulama besar Kalimantan Barat, Haji Muhammad Basiuni Imran Sambas. Menjemput barokahnya para Ulama.  Dan yang kedua, secara spiritual kerohanian, adalah untuk mengingatkan kepada kita semua bahwa sesungguhnya setiap yang berjiwa pasti akan mati. Hanya soal waktu saja. Dengan demikian, semakin menyadarkan kita untuk senantiasa menyiapkan bekal amal terbaik. Tradisi ziarah ini adalah amaliah kita orang NU. Seorang Kader NU harus menjadikan ziarah sebagai salah satu agenda rihlahnya disetiap kesempatan, tegas Haji Damsir”.

(Kontributor : H.Damsir, S. Ag/Koordinator PKPNU Bengkayang)

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *